Banner
jardiknaswikipedia Indonesia
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
No Poles setup.
Statistik
  Visitors : 634690 visitors
  Hits : 45422 hits
  Today : 56 users
  Online : 3 users
:: Kontak Admin ::

   
Agenda
14 December 2017
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6

DILEMA UJIAN NASIONAL MENGUJI KEJUJURAN

Tanggal : 22/01/2012, dibaca 1395 kali.

A.       Pendahuluan

Sejak kemunculan ujian nasional secara mutlak menentukan lulus dan tidaknya siswa di SLTP dan SLTA sejak itu pula tiap tahun murid, orang tua, dan pihak sekolah harus senam jantung setiap menghadapi pengumuman ujian nasional. Berbagai perasaan gembira, sedih, gemas, geram, marah, ada di perasaan mereka. Gembira  bagi siswa dan orangtuanya ketika yang bersangkutan dapat lulus, dan sedih bagi mereka yang mendapati dirinya tidak lulus. Bagi kita barangkali gemas, geram, marah melihat masih banyak kelemahan-kelemahan yang terkait dengan ujian nasional, namun ujian nasional tetap saja dilangsungkan bahkan terakhir keputusan MA pun tak bisa menghentikan perhelatan akbar dengan biaya yang tidak sedikit dengan hasil yang sering kali tidak akurat menggambarkan kemampuan sesorang siswa, sehingga seringkali di lapangan banyak anak pandai menurut guru yang mengajarnya tetapi tidak lulus sebaliknya anak yang kesehariannya kurang bisa mengikuti pembelajarannya bahkan sering tidak masuk sekolah malah dapat lulus ujian nasional.

Sebagai sebuah kebijakan, UN memang cacat sejak lahirnya. UU Sisdiknas jelas sekali mendelegasikan masalah kelulusan siswa kepada sekolah dan guru. Bahkan dalam UU Guru dan Dosen, hal ini dipertegas kembali. Sementara kebijakan UN membuat penilaian guru dan sekolah menjadi komponen yang kurang berarti. UN menjadi penentu mutlak kelulusan, guru dan sekolah hanyalah menjadi penentu bersyarat. Guru dan sekolah hanya berfungsi kalau siswa telah lulus UN. Artinya siswa yang tidak lulus UN, mutlak tidak lulus. Siswa yang lulus UN, sekolah memang berhak tidak meluluskannya. Suatu hak yang sangat ringkih, bisa dikatakan tidak berarti dalam konteks Indonesia. Wajar bila hampir seluruh sekolah tidak mau menggunakannya.

Sebagai sebuah kebijakan pendidikan, UN dengan sistem skor tunggal untuk kelulusan mendorong metode belajar yang berorientasi pemecahan soal. Logika pengetahuan digantikan dengan cara singkat dan cepat. Metode belajar didorong menjadi metode karbitan, tidak menghasilkan pengetahuan yang permanen. Apa yang diuji dalam UN tidak menggambarkan proses belajar selama tiga tahun yang telah dialami siswa. Hal itu hanya menggambarkan apa yang mereka pelajari dalam beberapa bulan kursus belajar menjelang UN dilaksanakan. Disamping itu pusat proses belajar mulai berpindah dari berpusatkan sekolah, menjadi berpusatkan Bimbingan Belajar. UN tidak serta merta menggairahkan iklim belajar di sekolah. Justru yang lebih berkembang adalah bisnis Bimbingan Belajar di luar sekolah. Peran guru semakin disunat. Ditengah persolan besar menghasilkan guru yang profesional, kebijakan UN justru semakin menggaris bawahi rendahnya mutu guru.

Kebijakan Ujian Nasional (UN) menempatkan banyak sekolah pada posisi dilematis. Lulus UN menjadi syarat mutlak bagi siswa SMP dan SMA untuk lulus sekolah. Melakukan ujian secara objektif dan jujur berarti menerima konsekuensi tingkat ketidaklulusan yang tinggi. Tekanan dari siswa, orang tua siswa, reputasi sekolah, bahkan reputasi daerah begitu berat untuk ditanggung. Namun melakukan kecurangan UN berarti mengorbankan integritas dan hati nurani sebagai seorang pendidik.

 

B.  Jujur Perlu Kesabaran

   Nampaknya ujian nasional tidak hanya sebagai ajang pemetaan mutu sekolah saja, tetapi ujian nasional juga sebagai ujian kesabaran kita, nilai kejujuran dalam kesabaran menjadi sangat relevan baik bagi peserta, orang tua, guru, maupun pihak sekolah. Salah ujian kesabaran kita tekait dari pernyataan Menteri Pendidikan kita Bapak Muhamad Nuh bahwa “Kelulusan tahun ini menurun dratis, karena tingkat kejujuran peserta ujian nasional meningkat”. Sungguh sangat ironi dan dilematis pernyataan dan kenyataan itu, karena sepintas nampak kejujuran menghasilkan ketidaklulusan. Lebih-lebih pada situasi dimana beberapa sekolah favorit mungkin saja beralasan demi mengejar dan menjaga prestise serta pengakuan dari semua pihak sebagai sekolah unggulan. Maka, ketika siswanya ingin lulus UN, gurunya ingin meningkatkan citra sekolahnya, dan pejabat daerah pun ingin memperoleh pujian bahwa kualitas sekolah di daerahnya adalah baik, kejujuran yang seperti itu menjadi suatu tantangan berat antara nurani yang selalu menjunjung tinggi  dengan keterpaksaan harus melacurkan idealismenya pada tindakan pragmatis.

Pertentangan nilai-nilai tidak hanya itu saja, ketika dalam kenyataannya banyak anak-anak yang rajin dan jujur mereka yang menurut gurunya yang mengajar selama 3 tahun harusnya bisa lulus tetapi oleh ujian nasional dinyatakan tidak lulus, dan sebaliknya anak-anak yang seharusnya pantas untuk tidak lulus menurut kacamata guru malah bisa lulus ujian nasional. Hal ini saya alami sendiri ketika saat dilaksanakan pengumuman hasil ujian nasional untuk SMA dengan hasil yang sungguh di luar perkiraan orang yang secara umum sangat jauh menurun. Pada saat itu  kebetulan saya sebagai guru di datangi salah seorang siswa putri yang tidak lulus sambil menangis berkata “ Pak saya salah apa, saya sudah belajar dengan baik, saya juga rajin masuk sekolah, keseharian saya nilainya baik dan di kelas tidak paling bodoh tetapi saya tidak lulus pak, sedangkan dia (menunjuk salah satu temanya) yang kesehariannya selalu bikin gaduh kelas dan nilainya jelek, sering tidak masuk, tetapi dia lulus pak”. Sesaat saya tidak bisa berkata apa-apa, memang kalau menurut kami para guru yang mendidiknya selama tiga tahun, maka tidak akan ragu meluluskanya dan justru temannyalah yang pantas untuk tidak lulus. Tetapi itulah ujian nasional yang hanya menilai sesaat saja yang langsung memvonis seseorang lulus atau tidak. Banyak anak-anak yang rajin dan jujur  oleh ujian nasional dinyatakan tidak lulus, dan sebaliknya anak-anak yang seharusnya pantas untuk tidak lulus menurut kacamata guru malah bisa lulus ujian nasional.

Tekanan bahwa belajar selama tiga tahun yang telah mereka laksanakan ternyata harus ditentukan kelulusannya dengan ujian nasional seringkali menjadi alasan bagi mereka untuk berbuat sesuatu untuk menghadapi momen yang sangat menentukan itu. Berbagai upaya dilakukan dari mulai tambahan jam belajar, pengayaan di pagi dan sore hari, mengundang motivator, sampai pada doa bersama telah dilakukan. Bahkan berbagai strategi untuk mensiasati ujian nasional dari yang legal, abu-abu dan tidak legalpun akan dilakukan demi sukses lulus ujian nasional.

Ternyata jujur perlu kesabaran pula, fenomena ujian nasional memang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai yang sering diajarkan di sekolah.Maka betapa keyakinan agama dan nilai-nilai moral seseoranglah  yang bisa bertahan pada kejujuran dalam mengadapi fenomena ujian nasional ini. Perlu keyakinan bersama untuk dapat menempatkan kejujuran sebagai modal kita, pernyataan ekstremnya, untuk apa nilai rata-rata UN 10 jika pada prosesnya harus menanggalkan nilai-nilai kejujuran. (Munif Afianto)



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : YGzTlP5OzdTv -  [fivmcwot@gmail.com]  Tanggal : 27/07/2015
Versie Taylor - Thank you so much for this. I'm attending a weniddg in a few weeks and I need to find classy looking yet affordable bridesmaid dresses. maybe I'll find something I like.


   Kembali ke Atas